Senin, 28 November 2011

Cerita Pendek: Cinta Terluka

Cinta Terluka


Oleh: Siska Kartikasari

            Sebuah rumah indah bernuansa Jawa yang di sana sini diberi ukiran Jepara terletak di kawasan elit Dago. Waktu itu hari menjelang malam. Rosa gadis berpipi merah merona, pemilik rumah itu, begitu bahagia. Orang tuanya sudah seminggu menjenguk kakaknya yang kuliah di Inggris, sekalian beerlibur. Ia mengundang teman-teman sekolahnya untuk menghabiskan malam minggu di sana. Gadis ramah yang gerakannya lincah seperti kijang ini tak henti tersenyum dan menyapa ke sana kemari. Tawanya berderai dari satu sudut ruangan ke sudut ruangan lainnya.
            Tiba-tiba matanya terarah kepada seorang gadis yang baru dilihatnya. Berbaju merah muda, berambut panjang. Ia duduk terpaku di kursinya dengan majalah di pangkuannya. Tapi, matanya yang lembut menerawang jauh ke depan. Sendiri di tengah keramaian.
“Hai, boleh kenalan nggak? Kayaknya aku baru liat kamu deh! Nama kamu siapa?” sapanya dengan manis.
“Hai, aku Ariani panggil Arin aja biar lebih akrab. Aku ke sini diajak sama Roni,” jawabnya.          
“Oh…emang kamu siapanya Roni? Pacarnya? Atau temen?” tanya Rosa.
“Aku cuma temennya kok. Aku temen sekolahnya dan kebetulan tadi ketemu di jalan, terus dia ngajak aku ke sini,” ujar Arin.
Perbincangan  mereka pun semakin akrab dan membuat suasana di ruangan itu semakin hangat. Empat jam pun berlalu dan tak terasa langit biru sudah dihiasi dengan bintang-bintang yang bertaburan. Angin malam pun semakin terasa menusuk tulang mereka.
            “Hei udah malem nih, pulang yuk! Besok kan kita harus sekolah. Lagian aku belum ngerjain PR buat besok nih. Ron, anter aku pulang yuk!” ajak Arin.
“Emang sekarang jam berapa, kok kamu udah ngajak pulang, sih?” tanya Roni.
“Udah jam setengah delapan nih, lagian pada main bilyard aja sih,” jawab Arin.
“Kirain baru setengah tujuh. Ok deh guys aku anter dulu Arin pulang ya! Eh semua, aku pergi ya tapi nanti balik lagi kok cuma mau nganter Arin pulang soalnya masih pengen ngobrol banyak sama kalian!’’ tegas Roni.
“Ya udah cepetan pergi, nanti kemaleman lagi!” ucap Doni.
“Iya-iya. Assalamualaikum,”jawabnya.
Berselimut langit penuh bintang, Roni dan Arin pun menyelusuri jalan dengan sepeda motor hitam milik Roni.

***

            Beberapa minggu kemudian, Arin dan Rosa pun bertemu kembali dan mereka terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Mereka sering bertukar cerita satu sama lain tentang semua yang telah mereka lewati. Dari mulai keluarga, sahabat di sekolah, kecengan, pacar, guru bahkan musuh mereka sekali pun.
Sore itu Rosa dan Arin terlihat asyik bercerita. Arin menceritakan tentang Yoga, seorang pria berambut cepak yang sedang mendekatinya.
“Kapan–kapan aku kenalin kamu sama dia deh, ntar kamu kasih penilaian ya!” pinta Arin.
“Ok deh!”jawab Rosa.
            Beberapa hari kemudian Rosa pun dikenalkan dengan Yoga dan mereka saling bertukar nomor telepon. Diam-diam tanpa sepengetahuan Arin, ternyata Yoga sering kali menelepon bahkan menjemputnya di sekolah. Pernah suatu malam, Yoga mengajak Rosa makan malam dan itu pun tanpa sepengetahuan Arin. Hubungan mereka yang tanpa status pun tak terasa menginjak tiga bulan. Saat itu Arin pun merasakan kecurigaan dari sikap Yoga sejak berkenalan dengan Rosa. Yoga sering kali tidak menghubungi Arin bahkan tidak mau bertemu dengannya.
            Di tengah gemericik hujan, dengan wajah tersipu Rosa menceritakan semua perasaannya terhadap Yoga pada Arin. Arin pun terkejut, ternyata Rosa menyukai Yoga, pria yang ia sayangi selama ini. Setelah Arin tahu tentang semua perasaan Rosa pada Yoga, ia pun berpikir untuk membiarkan Rosa menjadi kekasih Yoga walaupun begitu menyayat hatinya. Ia bingung untuk memilih antara cinta dan persahabatannya. Di satu sisi, Arin begitu menyayangi Yoga, tapi di sisi lain ia tak mau kehilangan sosok sahabat seperti Rosa yang telah lama ia cari.  
            Di terik matahari sepulang berbelanja, Rosa dan Arin melihat Yoga membonceng seorang gadis berbaju hijau berambut sebahu melintas di depan mereka.
“Rin, tadi kamu liat nggak?” tanya Rosa.                                                                               
“Liat apa?” ucap Arin.
“Itu tadi Yoga. Dia ngebonceng cewek. Jangan-jangan itu pacarnya?” jelas Rosa.
“Ah nggak mungkin itu pacarnya. Setau aku dia belum punya pacar makanya aku dulu mau dia deketin. Ntar deh kita tanya sama Roni, dia kan agak deket sama Yoga,” jelas Arin.
           
***                                                                               
           
Di tengah terik mentari yang begitu menyayat kulit, Yoga terlihat oleh Cinta, gadis yang menjadi kekasih Yoga selama ini, dengan sepeda motornya membonceng Arin. Saat itu Yoga baru saja menjemput Arin dari sekolahnya. Dengan api yang membakar hati, Cinta langsung saja menegur Yoga dan meminta penjelasannya. Yoga pun sempat tersendat-sendat saat menjelaskan kejadian itu. Arin yang tak mengerti apa yang terjadi antara Yoga dan Cinta hanya duduk termangu berharap angin dapat menjawab semua pertanyaan di benaknya.
Sesaat setelah Cinta pergi, Arin dan Yoga pun melanjutkan perjalanan pulang. Saat itu pun Arin yang tak kuasa menahan rasa penasarannya, menanyakan tentang kejadian yang telah terjadi antara Yoga dengan Cinta.
“Siapa sih? Kok kayaknya marah banget kamu boncengin aku? Pacar kamu ya?” desak Arin.
“Bukan kok, dia tuh cewek yang ngebet banget sama aku,”jelasnya.
Walaupun Yoga telah memberikan penjelasan, tetap saja Arin tak percaya akan semua perkataanya karena wanita itu mirip dengan wanita yang pernah ia lihat dulu saat bersama Rosa sepulang berbelanja.
            Siang sepulang sekolah, terlihat seorang gadis berbaju kuning, Cinta, berdiri di balik jeruji pagar sekolah. Saat itu tanpa sengaja Arin dan Rosa melintas di hadapannya. Dengan hati penuh api cemburu, ia langsung saja melabrak mereka.
“Heh, jangan suka rebut cowok orang deh! Emangnya di dunia ini nggak ada cowok lagi yang mau sama kalian apa?” tegas Cinta.
“Eh, jangan sembarangan ngomong deh! Emangnya cowok situ siapa? Lagian kita juga nggak tau yang mana cowok situ, terus emang kamu siapa sih kenal aja nggak udah main marah-marah gitu aja!” timbal Arin.
“Emang kalian nggak tau apa? Aku tuh ceweknya Yoga, cowok yang suka kalian godain itu!” jelas Cinta.
“Oh, si Yoga brengsek itu? Bukannya dia belum punya cewek? Lagian selama dia kenal sama aku, dia nggak bilang tuh kalo udah punya cewek!” balas Arin.
“Mana mungkin lah cowok mau ngaku punya cewek kalo ada yang ngedeketin dia terus!” tegasnya.
“Hm, berarti cowok kamu tuh yang kegatelan, baru dideketin gitu aja udah kerayu, lagian siapa juga yang mau sama cowok kayak dia?” jelas Rosa.
Perdebatan antara ketiga gadis itu pun semakin memanas dan membuat udara di sekitarnya semakin gerah. Semua orang di sekitar mereka tampak terkagum-kagum melihat perdebatan itu. Sesaat kemudian, nampak Roni berjalan mendekati mereka dan dapat melerai perselisihan itu.
            Beberapa hari setelah peristiwa itu, langkah Yoga pun mulai dibatasi oleh Cinta. Semua kegiatan Yoga selalu terkoreksi olehnya dari mulai kegiatannya di sekolah sampai kegiatannya di luar sekolah bahkan waktu main bersama teman-temannya selalu dibatasi. Karena sikapnya yang terlalu mengekang, akhirnya dengan sendirinya Yoga pun mulai menjauhi Cinta dan membatasi frekuensinya untuk bertemu.


***

Seminggu setelah kejadian yang dialami Yoga dan Cinta, tanpa di sengaja Yoga bertemu dengannya di sebuah swalayan tempat biasa dia berbelanja. Dengan wajah tenang tanpa merasa bersalah sedikit pun, Yoga berjalan dihadapan Cinta tanpa melontarkan sepatah kata pun sebagai sapaan. Dengan hati dan wajah tercengang Cinta menatap langkah kaki Yoga menjauhinya.
Tak lama sejak peristiwa itu, mereka pun bertemu kembali di sebuah taman di sekitar komplek tempat tinggal Cinta dan seperti biasa Cinta menyapa dengan sapaan manisnya.
“Hai, gimana kabarnya? Sombongnya tadi ketemu nggak nyapa,”ujarnya.
“Hm, sorry tadi aku nggak liat kamu, emangnya tadi kamu ada di mana?” jawabnya.
“Tadi aku kan ada di deket kasir. Kamu tadi ke Hero kan ?” ujar Cinta.
“Iya tapi aku kan nggak liat kamu,”jelasnya.
“Yud, kenapa sih sekarang-sekarang ini kamu mulai ngejauh dari aku ?” tanya Cinta.
“Nggak apa–apa kok, sekarang ini aku mulai sibuk di sekolah. Lagian apa peduli kamu? Aku udah muak sama omongan dan sikap-sikap kamu yang terlalu mengekang aku, lagian sekarang aku lagi banyak urusan nih, lain kali aja ya kita sambung lagi obrolannya,” jelas Yoga.
            Setelah semua keinginannya untuk menjauhi Cinta berjalan lancar, Yoga pun mulai mendekati lagi Rosa dan Arin. Namun semua sikap perhatiannya pada mereka hanya sia-sia belaka. Mereka acuh tak acuh saja menghadapi sikapnya yang mulai mendekati dan mulai mencoba menarik perhatian kedua gadis itu.
            Berulang kali Yoga mencoba mendekati mereka namun tetap saja semua pengorbanannya itu sia–sia belaka karena mereka tetap saja acuh tak acuh menghadapi sikap lelaki tengil itu.

***

            Matahari menyinari seluruh sudut kota Bandung dengan teriknya. Tak lepas pula dari sinarannya itu sebuah ruang kecil di samping sebuah pohon rambutan yang dipenuhi gerombolan remaja yang asyik berbagi cerita satu sama lain. Suasana saat itu begitu ramai. Di satu sudut tiga orang gadis dengan asyiknya bercerita dipenuhi canda tawa manis, di sudut lain seorang pria asyik menanggapi cerita temannya melalui handphone.
Cinta: “Hai Ron, lagi apa nih? Aku ganggu kamu ya?”
Roni: “Hai juga Ta, nggak kok nggak ganggu. Aku lagi ngumpul sama temen-temenku, biasa lagi ngobrol-ngobrol.”
Cinta: “Kamu lagi dimana memangnya kok rame banget?”
Roni: “Di kost-an Adit”
Cinta: “Hmm sorry, aku lagi pengen curhat nih, kamu mau dengerin curhatan aku kan?
Roni: “ Oooh. Oke. curhat tentang apa?”
Cinta: “Eh, kita bisa ketemuan nggak? Kayaknya kalau curhat pake HP nggak asyik deh, aku pengen cerita langsung sama kamu”
Roni: “Oh ya udah, mau ketemuan di mana?”
Cinta: “Nggak apa nih? Kalau ketemuan di tempat biasa aja gimana?”
Roni: “Ya, boleh deh.”
Cinta: “Sampai ketemu disana ya Ron”
Roni: “Oke. Sip”

Dan tak lama kemudian, Roni pun pergi menemui Cinta di sebuah café. Dengan kaos biru bercelana jeans dan sepeda motornya.
            Sepuluh menit sudah Cinta duduk ditemani segelas jus jeruk ia menunggu Roni. Terlihat dari arah pintu masuk, seorang pria bertopi hitam berjalan menghampirinya.
“Hai, udah nunggu lama ya? Sorry tadi di jalan macet,” sapa Roni.
“Nggak kok, aku juga baru dateng, eh kamu mau pesen apa?” tanya Cinta.
“Hm, aku pesen Cappucino aja deh!”jawabnya.
Setelah secangkir Cappucino pesanan Roni datang, perbincangan antara mereka pun terjadi.
            “Ada apa sih Ta, kok kayaknya kamu punya masalah yang rada serius gitu sih?” tanya Roni.
“Tentang Yoga, Ron,” jawabnya.
“Memangnya Yoga kenapa?” tanya Roni.
“Kemarin ini aku liat dia jalan sama cewek. Aku nggak kenal sama cewek itu, kayaknya mereka punya hubungan lebih deh,” jelasnya.
“Kamu udah minta penjelasan sama dia ?” tanya Roni.
“Udah sih, tapi dia ngejelasinnya gugup gitu, kayaknya kecurigaan aku memang bener. Belakangan ini, dia juga jarang banget ketemu sama aku, kalo aku sms atau telepon nggak pernah dia gubris!” jelasnya.
“Masak sih dia kayak gitu? Ntar deh aku bantu cari tau tentang dia sama cewek itu,” jelas Roni.
“Makasih ya Ron, kamu emang temenku yang paling baik,”ucap Cinta.
“Hm, mulai deh rayuan mautnya. Biasa aja lagi, masak temen susah nggak dibantu sih?” jelasnya.
Setelah perbincangan mereka selesai, mereka pun pergi meninggalkan café  itu.
            Bola dunia tak hentinya berputar. Hari–hari pun terus berganti, namun Yoga tak kunjung menemui Cinta apalagi meminta maaf padanya. Sepertinya hatinya telah membeku tanpa menghiraukan perasaan orang-orang terdekatnya. Ia tak memikirkan perasaan wanita yang begitu mencintainya. Yoga membiarkan Cinta melewati hari-harinya penuh dengan kesedihan. Tak pernah terpancar sinar kebahagiaan dari wajah Cinta sejak peristiwa itu. Tubuhnya yang kurus semakin terkikis karena perasaan bathin yang terus ia rasakan. Tawa yang selalu bersarang di wajah manisnya kini tak lagi ada. Hanya kesendirian dan wajah masam yang mengisi hari-harinya apalagi ditambah kepergian ayahnya karena kecelakaan pesawat saat perjalanan menuju New York untuk bekerja. Kini hari-harinya hanya terisi dengan tetesan air mata yang semakin lama mulai mengering.
            Tetesan hujan yang membasahi wajahnya sepulang sekolah menemaninya menyusuri jalan menuju rumah. Tanpa disangka, saat itu ia bertemu Rosa dan Arin yang kebetulan sama–sama hendak pulang. Dengan hati yang tulus ia mendekati mereka.
“Hai, baru pulang ya?” sapanya.
“Hm..iya!” jawab Arin dengan penuh rasa terkejut.
“Aku boleh pulang bareng sama kalian nggak?” tanyanya.
“Boleh aja kok. Tapi…,” ucap Arin.
“Tapi apa? Aku boleh pulang bareng kan? Oh ya, aku mau minta maaf atas sikap aku selama ini sama kalian. Aku nyesel banget berbuat kayak gitu sama kalian. Aku tau ini salah Yoga, dia aja yang kegatelan, aku udah illfeel sama dia kok. Aku nggak mau deket lagi sama dia,” potong Cinta.
“Oh..,” jawab mereka berdua.
“Kalian mau maafin aku kan?” tanyanya.
“Iya, kami maafin kamu kok, iya ‘kan Rosa?”jelas Arin.
“Iya kami maafin kamu. Eh kalo gitu gimana kalo kita kerjain dia aja?” tanya Rosa.
“Kerjain gimana maksud kamu?”ucap Arin.
“Ya kerjain aja, pokoknya buat dia kapok biar nggak mainin cewek-cewek lain lagi,” jelasnya.
“Hm..bagus juga ide kamu. Kapan kita mau mulai ngerjainnya?” tanya Cinta.
“Hm..kita pikirin dulu aja, nanti kalau udah ada jalan keluarnya baru kita bergerak,” jelasnya.
Karena asyiknya berbincang, tanpa terasa mereka pun berada di depan rumah Cinta. Cinta pun segera membuka pintu gerbang rumahnya dan melangkahkan kakinya ke dalam.
            Setelah beberapa lama berjalan menjauhi rumah Cinta, mereka pun tiba di depan rumah Rosa dan mereka berdua pun masuk menuju pintu rumah bernuansa Jawa itu. Dengan tubuh yang basah kuyup dan menggigil, mereka segera menuju sebuah meja bercorak bunga-bunga meraih secangkir teh hangat. Setelah seteguk air teh itu menghangatkan tubuh, mereka bergegas menuju kamar berwarna merah muda yang dipenuhi boneka-boneka manis.
***

Yoga semakin hari semakin mencoba mendekati Rosa dan Arin namun tetap saja mereka berdua tak kunjung berubah. Mereka tetap acuh tak acuh terhadap semua sikap manis Yoga. Semua pengorbanannya untuk mendapatkan hati salah satu di antara mereka begitu sia-sia. Ia tak mendapatkan apa-apa dari semua yang telah ia lakukan selama ini. Hati mereka sudah tertutup rapat-rapat untuknya.
Minggu yang cerah adalah saksi atas pembalasan dari perilaku Yoga terhadap Rosa, Arin dan Cinta. Siang itu langit tampak begitu cerah dan tersenyum manis. Rosa, Arin, dan Cinta sengaja membuat janji dengan Yoga. Mereka membuat janji di tempat yang sama di sebuah taman bunga dengan alasan memberi jawaban tentang pernyataan hati Yoga terhadap mereka bertiga. Di tengah keramaian, mereka mempermalukan Yoga. Mereka menghampiri Yoga secara bersamaan sambil melemparinya dengan tomat dan berteriak: ”Dasar cowok brengsek, cowok buaya. Kamu pikir diantara kita bakalan ada yang mau nerima kamu jadi pacar kita apa? Jangan GR dulu deh jadi orang! Sok kecakepan lagi!”
Dengan muka semerah tomat–tomat yang dilemparkan kepadanya, ia meninggalkan tempat itu sambil menggerutu. Pakaiannya yang penuh biji tomat itu membuatnya setampan pangeran Charles sehingga semua mata tertuju padanya.
            Beberapa hari dari peristiwa itu, ia bertemu dengan teman-temannya. Semua teman-temannya begitu menjauhi dirinya. Mereka kesal karena perbuatannya yang begitu tega menyakiti hati para wanita-wanita yang sebenarnya amat mencintainya. Ia begitu menghianati Cinta yang sudah beberapa tahun menjalin hubungan dengannya dan melewati suka duka bersama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar